Monday, April 20, 2020

BALADO BELUT




 Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, DIY identik dengan  hasil olahan belut. Warga daerah Godean banyak yang beternak belut. Makanan paling khas dari daerah ini yaitu kripik belut. Dalam bahasa Jawa  belut sering disebut welut. Welut goreng khas Godean sudah sangat terkenal.   Selain digoreng,  belut juga dapat diolah menjadi balado. Bagi penyuka pedas, wah langsung  ngiler deh.  Sensasi gurih   dan pedas membuat lidah bergoyang.
Menu belut balado ini  sangat cocok   untuk  teman sahur atau berbuka puasa.  Saya jamin pasti nambah makannya. Rasa gurih nan pedas nampol banget .  Mungkin belum begitu banyak  dipasarkan menu balado belut ini. Sekali mencoba pasti langsung ketagihan. Para ibu bisa menjadikan salah satu menu alternatif ketika keluarga sudah bosan menu sehari-hari untuk buka dan sahur nanti.
                       WFH  seperti ini bisa  dimanfaaatkan untuk belajar memasak balado belut. Langsung  cari tutorial di youtube. Paginya beli bahan di pasar. Mulai deh eksekusi sesuaikan dengan selera keluarga ya.  Bagi keluarga yang penyuka pedas dapat dibuat dengan level pedas abis. Tetapi bagi keluarga yang kurang begitu suka pedas dapat dibuat dengan level  pedas yang rendah. Selamat mencoba berkreasi  memasak balado belut yang  super endezhhh.


Oleh: Riani Astuti, S.Pd.
Guru SDN Slametan, Gunungkidul, DIY.  

Saturday, April 18, 2020

SEDERET KISAH GURUKU BERPRESTASI (RESUME #16)





Hari, tanggal    : Jumat, 17 April 2020
Narasumber    : Sigit Suryono, M.Pd.
Peresume       : Riani Astuti, S.Pd. (Guru SDN Slametan, Gunungkidul, DIY)

Sigit Suryono, S.Pd, M.Pd
SMP N 1 Wonosari, Gunungkidul, DIY, Indonesia

Lahir di Sleman, 20 Nopember 1976 dari pasangan Bapak Giyono SW dan Ibu Waginem. Masa kecil tinggal di Ngawen, Trihanggo, Gamping, Sleman, Yogyakarta.
Pendidikan dimulai di TK Ngawen Trihanggo tahun 1981-1983. Pendidikan dasar ditempuh di SD Negeri Jambon II, Trihanggo, Sleman pada tahun 1983-1989. Kemudian melanjutkan di bangku SMP Negeri 5 Yogyakarta pada tahun 1989-1992. Pendidikan menengah ditempuh di SMU Negeri 1 Sleman jurusan IPA pada tahun 1992-1995. Pendidikan S1 di Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 1995 – 2002 pada Fakultas FMIPA jurusan Pendidikan Fisika. Melanjutkan S2 di Program Pascasarjana UNY jurusan Teknologi Pembelajaran dari tahun 2003-2006.
Pada tahun 2006 menikah dengan Dwi Riastuti, M.Pd dan kini sudah dikaruniai dua orang anak yaitu :
Muhammad Yunus Baskara
Galuh Ray Rannaa
Aktifitas keseharian sebagai pengajar di SMP Negeri 1 Wonosari Kabupaten Gunungkidul, mengampu mata pelajaran IPA.
Aktifitas lainnya yang telah dan sedang dilakukan adalah :
1. Sekretaris Komunitas Rumah Belajar Kemdiknas 2012 – sekarang
2. Sekretaris MGMP TIK Kabupaten Gunungkidul Tahun 2006-2009
3. Ketua II MGMP TIK Kabupaten Gunungkidul 2009 – 2012
4. Anggota Litbang MGMP IPA Kabupaten Gunungkidul 2012-2015
5. Ketua II MGMP IPA Kabupaten Gunungkidul 2015-2017
6. Ketua MGMP SMP Kabupaten  Gunungkidul 2017 – sekarang
6. TIM Pengembang TIK Kabupaten Gunungkidul 2009- sekarang
7. TIM Pengembang TIK Propinsi DIY 2009 – sekarang
8. Trainer Pelatihan Blog, Pelatihan Multimedia Pembelajaran di BTKP Propinsi DIY
9. Trainer ICT di MGMP IPA dan TIK Kabupaten Gunungkidul
Prestasi lomba yang telah diraih :
1. Finalis National Inovatif Teacher Comptetition tingkat Nasional tahun 2009
2. Finalis Inovasi Pembelajaran SMP Tingkat Nasional tahun 2009
3. Juara 3 Website SMP Tingkat Propinsi DIY 2010
4. Juara 1 Website SMP tingkat Propinsi DIY 2011
5. Finalis Lomba Media Pembelajaran KI Hajar Award tingkat Nasional Tahun 2012
6. Juara 1 FIG guru SMP Tingkat Propinsi DIY Tahun 2013
7. Finalis FIG guru SMP Tingkat Nasional Tahun 2013
8. Juara 2 Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2013
9. Finalis Lomba Mobile Edukasi tingkat Nasional tahun 2014
10. Finalis Lomba Mobile Edukasi tingkat Nasional tahun 2015
11. Juara 1 Guru SMP Berprestasi Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2015
12. Juara 1 Guru SMP Berprestasi Tingkat Propinsi DIY Tahun 2015
13. Juara 1 Guru SMP Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2015
14. Penerima Anugrah Gubernur DIY tahun 2015 atas prastasi sebagai Juara 1 Gupres TK Nasional.
15. Penerima SatyaLencara Bidang Pendidikan dari Presiden RI tahun 2016 atas prestasi sebagai juara 1 guru berprestasi Tingkat Nasional tahun 2015.
16. Sebagai Salah Satu Peserta Terbaik Literasi Tingkat Nasional 2017.
17. Duta Rumah Belajar Tk Nasional Th 2018 dan Duta Rumah Belajar Terinovatif Th 2018.
18. Penerima Anugrah Gubenur DIY tahun 2018 atas prestasi sebagai Duta Rumah Belajar Terinovatif Thn 2018.
Address:
Jeruksari Rt 01/ RW 20, Wonosari, Wonosari, Gunungkidul, DIY, Indonesia 55812
Email :
ciget_suryo@yahoo.com

            Berikut kisah perjuangan Pak Sigit Suryono yang juga bapak guru saya saat SMP tahun 2006-2008. Terima kasih Pak Sigit yang selalu masih ku ingat mengajari kami TIK dulu.
            Saya akan berbagai pengalaman dengan teman-teman berkaitan dengan keberhasilan saya dalam menjadi juara 1 guru berprestasi smp tingkat nasional tahun 2015 maupun sebagai duta rumah belajar tahun 2018. dan prestasi yang lain yang semoga bisa menjadi profokator bagi teman-teman di group ini untuk bisa mencapai hal tersebut.
            Sesuai dengan judul yang disampaikan oleh omjay untuk saya yaitu "Guru menulis dan Berprestasi" saya sebenarnya malu dengan teman-teman di group ini yang sebagian besar sudah menulis dan diterbitkan dalam bentuk buku ber isbn.... saya baru satu kali membuat buku itupun harus saya buat sama istri selama 9 tahun baru bisa jadi 1 buku kumpulan cerpen.... yang dengan judul "aku ingin menghitung rembulan" pada tahun 2017 berhasil menjadi salah satu desiminator terbaik literasi smp tingkat nasional. "betapa sulitnya saya membuat karya".
            Namun itu sisi sebagai penulis buku saya susah. Mhn maaf ya.... namun di sisi lain saya sering membuat coretan artikel, berita dan juga tutorial yang lumayan banyak yang saya upload di web saya yaitu di ciget.info maupun di inobel.id
bisa dikatakan saya satu madzab dengan omjay guru yang senang menulis di blog.
Hal pertama yang ingin saya sharingkan pada teman-teman di Group WA ini adalah tentang bagaimana saya bisa meraih juara 1 Guru berprestasi tingkat Nasional pada Tahun 2015.
            Untuk mencapai kejuaran tersebut saya sebenarnya mulai menyiapkan diri sejak awal saya bekerja di SMP Negeri 1 Wonosari. Tepatnya pada saat itu saya masih CPNS diminta untuk mengikuti kegiatan seleksi simposium tingkat Propinsi  DIY tahun 2006. Saya melihat ada peluang yang saya rekam dari senior-senior saya saat pelaksanaan simposium tersebut yaitu banyak dari peserta simposium yang ahli dalam penelitian namun belum banyak yang menguasai TIK, sedangkan teman-teman yang menguasai TIK banyak yang tidak mau melakukan penelitian bahkan malas menulis laporan.
            Simposium pada waktu itu diikuti oleh semua ketua MGMP SMP maupun pengurus hampir semua bidang study yang ada di propinsi DIY dan setiap Kabupaten wajib untuk mengirimkan peserta dalam kegiatan tersebut. Itu sebagai sebuah tantangan dan peluang bagi saya untuk mempromosikan diri kepada para senior, hal tersebut dikarenakan saya pada tahun 2006 sudah menyelesaikan S2 untuk jurusan Teknologi Pembelajaran (walaupun harus kuliah 11 tahun karena S1 hampir DO 7 tahun ditambah langsung S2 3,3 tahun itulah senjata yang handal bagi saya).
             Jadi untuk keberhasilan awal yang saya rasakan adalah: 1. Pendidikan amat penting bagi kita saat akan terjun ke dunia kerja ( saya sudah diberi senjata yang tajam oleh orang tua), 2. Pemilihan jurusan S2 yang tidak linier bagi saya pada saat itu karena pingin punya keahlian yang belum banyak dimiliki oleh teman-teman di dunia pendidikan pada saat itu.
            Dari simposium tersebut saya mulai diminta untuk mengajar Powerpoint, flash, blog, dan lain-lain dari sekolah-sekolah  di wilayah kabapaten gunungkidul, lintas mgmp, dan juga diminta untuk menjadi trainer kegiatan di tingkat kabupaten maupun tingkat propinsi. Kemudian ajang lomba mulai saya jajaki, kegagalan setiap mengirimkan karya, dan proposal berkali-kali. Namun pantang menyerah terus mencari informasi lomba lewat web maupun blog tentang info lomba. jangan tunggu informasi dari dinas karena pasti akan terlambat... kegagalan-kegagalan yang ada di depan mata saat lomba, bahkan karya terbaik yang saya buatpun masih kalah.... dalam lomba padalah pada saat itu karya yang saya buat lebih baik dari karya peserta lomba lain? "Inilah masalah baru bagi pemain lomba".
            Oleh karena itu saya riset kenapa selalu kalah... saya renungkan akhirnya mulai tahun 2009 saya sudah mulai mencicipi hasil kejuaran dari tingkat kabupaten, regional, maupun propinsi, namun di tingkat nasional saya selalu kalah dalam 6 kali berhasil menjadi finasil lomba tingkat nasional apa sih yang menyebabkannya?
            Saat kita benar-benar ingin mengikuti lomba tingkat nasional maka kita harus melakukan: 1. Mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya karya yang akan kita ikut lombkan (kecuali masih tahap awal karena hanya ingin mencoba berhasil/tidak ya gagal/tidak), 2. Karya yang kita ikutkan dalam lomba bukan karya yang instan artinya karya yang kita buat tidak maksimal karena hanya membuat karya saat akan ada lomba, namun siapkanlah karya yang dibuat itu jauh hari bahkan mungkin 1 tahun pengerjaan yang di dalamnya ada jiwa dan ruh kita, semangat kita. 3) Jika kita lolos ke nasional perlu di lihat kembali apasih yang akan dinilai saat kita mengikuti lomba tersebut, apakah karyanya ataukah presentasinya (hal ini sangat penting saat kita mengikuti suatu lomba), 4) Siapkan diri, pribadi, mental dan juga fokus pada lomba, 5) saat presentasi lomba fokus pada materi yang akan kita sampaikan, jangan sampai keluar dan menyimpang dari presentasi yang kita siapkan karena akan banyak memakan waktu.
            Kegagalan-kegagalan di awal saya ikut lomba di tingkat nasional karena pada saat pemaparan saya dulu sering melakukan presentasi yang keluar jalur bukan pada pokok media atau penelitian yang saya buat misalnya( siapa saya, prestasi apa yang saya miliki, membanggakan organisasi, sekolah, maupun yang lainnya sehingga keluar jalur dari presentasi yang seharusnya saya harus fokus pada media yang saya presentasikan) itu penting sekali karena saya pernah gagal di ajang inobel tahun 2009 saat itu saya kehabisan waktu karena hanya menceritakan siapa saya, dan lain-lain yang akhirnya harusnya dari teman-teman peserta pada saat itu menilai saya bisa masuk 3 besar ternyata tidak masuk ...... pengalaman pahit...
            Teman-teman yang luar biasa di group ini ada yang juara inobel, ada yang juara lkg, ada yang juara bidang lain tentu juga merasakan apa yang pernah saya rasakan... lomba itu pasti hasilnya gagal atau juara. kalau gagal maka kita harus melakukan evaluasi. kalau menang jangan jumawa karena suatu saat bisa juga kita akan kalah ketika tidak bisa kontrol diri "AKU-nya muncul" sehingga saat presentasi di lomba lain bisa kalah dengan orang lain. Maka saran saya pada teman-teman di group ini dan tentu buat saya sendiri mari kita terus belajar-belajar-dan belajar, belajar dimana saja, kapan saja dengan siapa saja" (seperti slogan Rumah Belajar) ya. Hal yang saya tuliskan diatas adalah pengalaman saya saat mengikuti lomba-lomba yang selalu gagal .... kemudian bagaimana saya bisa jadi juara guru berprestasi tingkat nasional tahun 2015, apa yang saya lakukan dan  apa yang saya persiapkan.
            Cari Pedoman Pemilihan Guru Berprestasi pada tahun penyelenggaraan dilaksanakan jika belum keluar pedomannya dapat menggunakan pedoman pada tahun sebelumnya.
1.         Cermati isi dari pedoman tersebut berkaitan dengan proses penilaian dari tingkat Kabupaten, Tingkat propinsi, dan tingkat Nasional.
2.         Buat portofolio 8 tahun terakhir sesuai dengan ketentuan dari buku pedoman pemilihan guru berprestasi.[ kumpulkan semua karya bapak ibu guru yang sudah dibuat selama 8 tahun terakhir, untuk bukti fisik berupa Surat tugas, piagam, dll, diligalisir oleh atasan langsung]
untuk tahun 2015 syarat portofolio kita adalah 8 tahun. itu hal yang menantang bagi peserta gupres maka penting untuk mengarsipkan semua kegiatan yang pernah kita lakukan dari tahun ke tahun ( alhamdulillah karena pengalaman tahun 2006 tersebut saya masih memiliki semua arsip yang dibutuhkan untuk mengikuti gupres, seperti undangan, catatan singkat/ laporan singkat setiap kegiatan yang saya ikuti, foto, video dan dokumentasi, piagam dan sertifikat yang lain selama 8 tahun tersebut hampir semuanya lengkap sehingga memudahkan untuk menyusun portofolio tersebut)
saya lanjutkan untuk tipsnya
3.         Persiapkan naskah inovatif dan sesuaikan cara penulisannya sesuai dengan kaidah penulisan masing-masing karya. Tampilkan karya inovasi terbaik yang bapak/ ibu guru miliki dan selalu memperhatikan dari buku pedoman pemilihan guru berprestasi tingkat nasional.[ karya bisa berupa PTK, best practice, maupun penelitian yang lainnya seperti penelitian eksperimen, penelitian R&D, dll] jangan lupa buat presentasinya menggunakan Ms Powerpoint atau yang lainnya.
4.         Buat makalah evaluasi diri mengapa saya layak sebagai guru berprestasi dengan tema dan tata penulisan sesuai dengan ketentuan pedoman guru berprestasi. [ jika dalam pedoman tidak ada makalah evaluasi diri maka makalah ini tidak perlu dibuat]
5.         Persiapkan video pembelajaran untuk satu tatap muka yang mencerminkan proses pembelajaran yang benar sesuai dengan rpp yang kita buat. [ syarat yang maju ke tingkat nasional]
setelah itu semua siap maka hal yang kita lakukan adalah melalui tahapan-tahapan seleksi guru berprestasi dari tingkat kabupaten sampai nasional yaitu:
            Kegiatan penilaian di masing-masing jenjang seperti yang sudah saya ikuti pada tahun 2015 meliputi:
Lomba Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Gunungkidul:
1.         Test tertulis meliputi Kompetensi Pedagogik dan Kompetensi Profesional
2.         Test Wawancara meliputi Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Prefesional, Kompetensi Sosial, dan Kompetensi Kepribadian.
3.         Presentasi dan wawancara Karya Tulis Ilmiah.
Lomba Guru Berprestasi Tingkat Propinsi DIY
1.         Test tertulis meliputi Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Sosial, Kompetensi Kepribadian dan Kompetensi Profesional
2.         Test wawancara meliputi Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Sosial, Kompetensi Kepribadian dan Kompetensi Profesional
3.         Psikotest
4.         Presentasi dan wawancara Karya Tulis Ilmiah.
Lomba Guru Berprestasi Tingkat Nasional
1.         Test tertulis meliputi Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Sosial, Kompetensi Kepribadian dan Kompetensi Profesional
2.         Test wawancara meliputi Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Sosial, Kompetensi Kepribadian dan Kompetensi Profesional
3.         Psikotest
4.         Presentasi dan wawancara Karya Tulis Ilmiah.
oh iya teman-teman jika ingin melihat komponen portofolio yang saya gunakan untuk lomba gupres tahun 2015 dapat dilihat di web saya : Contoh Portofolio Gupres
http://ciget.info/wp-content/uploads/2016/04/3.pdf
            Serta bagi para guru pesan saya adalah teruslah belajar, berkolaborasi dan berbagi agar ilmu yang dimiliki agar bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Bekalilah muridmu sesuai dunianya, karena mereka akan hidup di zaman mereka yang sangat berbeda dengan zamanmu. dan jangan lupa Belajar dimana saja, kapan saja, dengan  siapa saja ("Rumah Belajar").  

Friday, April 17, 2020

MENGAJAR GAYA MOTIVATOR (RESUME #15)






Hari, tanggal   : Kamis, 16 April 2020
Narasumber    : Aris Ahmad Jaya

Bapak Aris Jaya merupakan seorang motivator sekolah-sekolah unggul di seluruh Indonesia, CEO di Lembaga ABCo SUGESTI MOTIVATIND. Beliau menyampaikan materi tentang MGM (Mengajar Gaya Motivator). Tujuannya agar guru-guru di seluruh Indonesia menjadi idola murid-muridnya. Guru menjadi pribadi yang menarik dan menyenangkan, pribadi yang dirindukan dan menginspirasi murid-muridnya. Waw menarik sekali, karena guru kadang kehabisan gaya saat murid-murid sudah bosan dengan materi.
Saya seorang guru, dulu sebenarnya berniat jadi guru atau tidak sih? Jujur, awalnya belum berniat. Karena minat saya dahulu di bidang Kesehatan. Tetapi tidak apa-apa, saya sudah meluruskan niat saya untuk menjadi seorang guru. Berdasarkan niat, guru ada dua macam menurut Pak Aris:
1.    Guru Betulan : guru yang dari awal sudah niat menjadi guru, karena sudah niat maka guru betulan bisa diidamkan.
2.    Guru Kebetulan : kebetulan sudah lulus dari univ dan sambil menunggu panggilan kerja, terus jadi guru dulu. Kebetulan ada Yayasan ortu yang butuh guru atau diajak teman, dan lain-lain.
Guru kebetulan dapat menjadi guru betulan kalau mau belajar. Kadang bisa jadi guru idola lho, hebat kan. Namun jika kita tidak mau menerima profesi kita sebagai seorang guru, maka akan menjadi masalah. Guru betulan atau guru kebetulan akan berbuah manis jika mencintai profesinya. Apapun yang kita bawa, anak akan suka, karena kita sudah dicintai.
Jenis guru berdasarkan kinerja, ada tiga yaitu:
1.    Guru nyasar        : tidak punya tujuan, tidak punya energi, murid jadi benci, jam jadi terasa lambat dan murid jenuh.
2.    Guru bayar          : energinya terkait finansial, wajah cerah setelah gajian tetapi mukanya menyedihkan saat tanggal tua atau insentif belum cair. Ayo segera sadar!
3.    Guru sadar          : pembelajarannya menyenangkan, pulangnya dirindukan, karena apa yang diucapkan dan dilakukan secara sadar.
              MGM mengajarkan kita untuk menjadi guru SADAR. Sadar bahwa kita adalah guru konektor kebaikan, sadar bahwa ilmu adalah amal jariyah. Guru sadar adalah magnet kecintaan siswa terhadap ilmu yang ia bawa, magnet untuk siswanya agar lebih dekat dengan Tuhan.
Peran guru sesungguhnya yaitu:
1.    Mengajar
2.    Mendidik
3.    Menginspirasi
4.    Menggerakkan
              Guru yang digugu dan ditiru harus bisa menjadi teladan memasukkan norma-norma yang baik. Guru yang mendidik adalah guru yang mampu menginspirasi. Jadilah guru yang menarik dan menyenangkan. Menarik yaitu memiliki daya Tarik yang dimulai dari tatapan pertama murid ke guru. Guru menyenangkan artinya guru mempunyai daya untuk dirindukan, dimulai dari apa yang terasa.
Berikut tips menjadi guru yang dirindukan, dicintai, dan menginspirasi :
1.    Persiapkan jadi diri yang menarik dari sisi penampilan dan perilaku. Pastikan kita layak diizinkan murid untuk diperhatikan, tidak hanya sekedar didilihat, didengar saja.
Karena murid itu ada dua pintu, yaitu pintu mengizinkan (murid akan senang dan nyaman dengan guru) serta pintu tidak mengizinkan (yang menyebabkan siswa tidak suka belajar) sehingga apa yang kita bawa tidak akan masuk.
Lalu bagaimana membuka pintu mengizinkan itu?
a.    Senyum
b.    Sapa dengan salam yang berbeda
c.     Apresiasi atau penghargaan
d.    Ice breaking
e.    Tempa besi selagi panas (tangkap kebaikan anak, beri apresiasi individu/massal)
2.    Temukan titik lebihnya, temukan nilai unggulnya dan masuklah melalui itu.
Einstein pernah berkata, “semua orang jenius.” Tetapi jika kita menilai seekor ikan dengan kemampuannya memanjat pohon, maka seumur hidupnya ia akan percaya bahwa dirinya bodoh. Jadi kenali kecerdasan individu dan gaya belajar setiap siswa.
Cara menemukan nilai tambah siswa yaitu memberikan momentum atau kesempatan, libatkan mereka jadi pemain dan berikan label positif.

Oleh: Riani Astuti, S.Pd.
Guru SDN Slametan, Gunungkidul, DIY.  

MELURUSKAN NIAT MENERBITKAN BUKU (RESUME #10)




Hari, tanggal    :  Sabtu, 11 April 2020
Narasumber     :  Wijaya Kusumah

Materi  ke sepuluh  kali ini  Om Jay   (Pak Wijaya Kusumah) mengingatkan kembali tentang niat mengikuti  diklat menulis secara online melalui WAG ini, yaitu bukan semata-mata  untuk mendapatkan sertifikat, tetapi mengasah skill menulis serta mampu menerbitkan buku sendiri.   Semangat Om Jay  dalam memotivasi para guru-guru di Indonesia   sungguh luar biasa. Sebagai founder grup Belajar Menulis ini Om Jay juga membangkitkan semangat para guru untuk nge-blog . Setiap  hari Om Jay selalu memberikan tantangan untuk menulis sebuah tulisan berdasarkan gambar yang Om Jay kirim di WAG.
Om Jay meminta para peserta untuk menyimak materi melalui youtube channelnya. Lalu Om Jay  menyampaikan bahwa para peserta harus bisa meluruskan niat dari sekarang untuk menulis dan menerbitkan buku . Beliau menghimbau agar para peserta menulis materi-materi dan tulisan pada blog masing-masing. Pada akhir pertemuan , peserta diwajibkan menyelesaikan bukunya.  Om Jay juga berpesan bahwa menulis juga harus mampu mengembangkan kreativitas dan imajinasi.  Usahakan jangan sampai copy paste milik orang lain.
Hasil akhir dari  diklat online ini yaitu mampu menerbitkan dua buah buku, yaitu hasil resume dan  buku bebas dari apa yang dikuasai. Om Jay selalu mengingatkan agar selalu berkunjung ke blog peserta lain, atau disebut blog walking. Fungsinya, agar kita menemukan gaya menulis diri sendiri. Sebab setiap orang itu memiliki ciri khas atau gaya menulis yang berbeda-beda.
Terima kasih motivasinya Om Jay, sehat selalu 😊


Oleh: Riani Astuti, S.Pd.
Guru SDN Slametan, Gunungkidul, DIY.   

Wednesday, April 15, 2020

SEMBAKO PEDULI SESAMA



         Di kala pandemi seperti ini, ekonomi menjadi krisis. Setiap orang dirumahkan untuk belajar di rumah dan bekerja di rumah. Tapi bagaimana nasib para pekerja yang tidak dapat bekerja di rumah? Sedangkan penghasilan diperoleh secara harian. Dilema, tetap di rumah tetapi harus menghidupi keluarga, atau tetap bekerja di luar rumah demi sesuap nasi. Pemerintah memberikan bantuan kepada rakyat yang tergolong miskin dengan nama PKH (Program Keluarga Harapan). Akan tetapi rakyat Indonesia masih banyak yang tergerak hatinya untuk saling berbagi.  Tidak serta merta menunggu bantuan dari pemerintah.
         Lingkungan tetangga pun juga saling membantu. Bagi yang memiliki penghasilan bulanan memberikan sedikit rejekinya kepada tetangganya. Kebutuhan pokok seperti sembako sangat dibutuhkan bagi setiap keluarga. Apalagi kegiatan terfokus di rumah. Kebutuhan makanan semakin bertambah ketika semua anggota keluarga di rumah. Sembako menjadi lebih cepat habis dari biasanya.  
         Di daerah saya tiba pada musim panen, alhamdulillah. Ada penghasilan dari hasil panen padi. Saudara dan tetangga kami juga saling berbagi beras atau telur. Tetangga kami yang termasuk keluarga PKH juga masih menyisihkan untuk berbagi dengan tetangga yang tidak termasuk PKH. Mulia sekali hatinya, padahal keluarganya sangat membutuhkan. Kemudian, keluarga yang bukan PKH pun menjelaskan, bukan berarti menolak pemberian, tetapi lebih baik digunakan untuk kebutuhan beliau dan keluarga karena yang lebih membutuhkan. Semoga pandemi ini segera berakhir, semua bisa kembali bekerja dan belajar seperti sedia kala.  

Oleh: Riani Astuti, S.Pd.
Guru SDN Slametan, Gunungkidul, DIY.  


KARYA INOVASI DAN KUALITAS DIRI (RESUME #14)




Hari, tanggal       : Rabu, 15 April 2020
Narasumber       : Tri Agus Cahyono, M.Pd.

Bapak Tri Agus Cahyono merupakan guru di SD Kecamatan Tepus, Gunungkidul. Beliau juga guru berprestasi peraih juara 1 inobel SD bidang MIPA tahun 2019, luar biasa sekali. Tema kali ini adalah “Karya Inovasi dan Kualitas Diri”. Pada hakikatnya sebuah karya inovasi adalah puncak dari proses belajar seseorang. Sesuai taksonomi Bloom yg telah direvisi oleh Krathwool. Ada 6 tahapan berfikir kognitif:
1. Mengingat (C1)
2. Memahami (C2)
3. Menerapkan (C3)
4. Menganalis (C4)
5. Mengevaluasi (C5)
6. Menciptakan (C6)
Dalam taksonomi tersebut Karya inovasi adalah sebuah tahapan puncak dari proses berfikir. Jadi ketika kita menginginkan sebuah karya inovasi yang baik, maka kita tidak boleh melewati tahapan2 tersebut. Jangan sampai kita berinovasi tapi:
1. Tidak tahu ilmunya
2. Tidak paham maksudnya
3. Tidak pernah menggunakan
4. Tidak bisa menganalisis bagian2nya
5. Tidak bisa menilai kelebihan dan kekurangannya
Jadi intinya jika anda ingin menciptakan karya inovasi maka anda harus belajar menguasai materi keilmuan dari karya tersebut. Ketika final lomba Karya Inobel yg dinilai bukan sekedar bagaimana karya tersebut atau karya tulisnya tetapi yg paling penting dan lebih utama adalah bagaimana penciptanya/inovatornya yg akan ditelisik oleh dewan juri melalui presentasi dan tanya-jawab. Nah bagaimana cara kita belajar untuk meningkatkan kualitas diri dan sekaligus menciptakan sebuah karya inovasi adalah dengan bekerja. Belajar kita lakukan pada saat mengajar.
Ketika kita berC1 sd C5 ada sebuah ketidakpuasan. Setelah kita belajar, mengingat, memahaminya, menerapkannya, menganalisisnya, kita pasti mengevaluasinya (kekurangan dan kelebihan). Disitulah rasa ketidakpuasan akan muncul. Dan daya cipta kita sebagai manusia ( kreativitas) akan muncul. Nah sekarang bagaimana kita memilih bidang yg akan kita buat inovasinya. Kuncinya "APIK" (saya kutip dari Pak Arif Edi):
1. Asli (jangan menjiplak)
2. Perlu (benar2 dibutuhkan)
3. Inovativ
4. Konsisten
         Ok, sekarang saya berikan contoh karya inovasi kami yg mendapatkan penghargaan inobel 2016. Namanya media "Planetarium Bekam". Media ini adalah hasil dari ketidak puasan terhadap media konvensional yg selama ini kami gunakan yaitu globe. Bertahun2 menggunakan globe hasilnya selalu biasa-biasa saja. Anak tidak tertarik/kurang termotivasi dan prestasi belajar kurang memuaskan. Prestasi kurang lebih disebabkan kurangnya motivasi. Motivasi rendah lebih disebabkan materi bukan pada zona motivasi (jangkauan anak). Zona motivasi anak itu adalah sesuatu yg menantang namun bisa dikerjakan. Jadi jika materi terlalu sulit dan terlalu mudah maka dipastikan anak kurang termotivasi. Ketika menggunakan globe dalam pembelajaran IPA untuk menerangkan materi pergerakan Bumi & Bulan, anak dipaksa berfikir sangat abstrak.
         Fungsi media ini adalah mempermudah observasi. Ketika anak memperbandingkan globe yg diperagakan dengan lampu senter dan mengakomodasikan dengan kejadian sebenarnya antara Bumi, matahari, dan bulan sangat sulit. Disinilah ketidakpuasan terhadap globe muncul. Kita analisis kelebihan dan kekurangan globe dalam menjelaskan materi tersebut.
A. Kelebihan:
1. Model yg paling sesuai
2. Ada di sekolah
3. Mudah digunakan
4. ...dll
B. Kekurangan:
         Tidak bisa menampilkan bagaimana kenampakan langit dari bumi saat diperagakan. Meskipun anak kelas 6 sudah mampu berfikir abstrak namun kemampuan tersebut masih terbatas. Khusus pada gerak semu atau bukan gerak sebenarnya anak sangat kesulitan untuk menerima konsep tersebut. Semisal Gerak semu harian matahari. Kita menyampaikan ke anak bahwa gerak semu harian matahari. Matahari tidak bergerak tetapi yg bergerak adalah bumi.
         Gerak semu harian matahari. Nah saya berpikir bagaimana supaya hal tersebut bisa ditampilkan di kelas. Maka kamera yg saya pasang harus bisa live menampilkan kenampakan langit. Kamera saya hubungkan ke laptop dan saya hubungkan ke proyektor (LCD) saya sorotkan ke langit2 kelas. Maka jadilah planetarium bekam. Bekam = Globe berkamera. Globe saya pasangi kamera web cam. Cara menggunakan dalam pembelajaran seperti menggunakan globe biasa.
         Begitulah hasil karya dari Pak Agus. Sungguh sangat menginspirasi. Semangat beliau luar biasa. Setiap hari mengajar harus PP lintas Provinsi. Pacitan-Gunungkidul dengan jarak 70 km sehingga PP 140 km setiap kali mengajar. Waktu yang ditempuh beliau 1,5 jam perjalanan. Selama perjalanan beliau sambil memikirkan rencana kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan bersama anak-anak didik beliau. Beliau sudah pernah berkunjung ke Negara Sakura, Jepang.  
         Kesimpulan dari beliau: Dalam berinovasi jangan memikirkan masalah yg bersumber dari luar seperti lingkungan sekolah, sarana dan prasarana, dll tetapi FOKUS pada KOMPETENSI DIRI itulah yg akan memudahkan kita menemukan hal-hal atau ide penting yg membantu keberhasilan pembelajaran. Sehingga tidak hanya inobel yg kita dapat, OGN akan dapat, Gupres juga akan kita dapat. Jadi tingkatkan kualitas diri untuk karya yg berkualitas.

Oleh: Riani Astuti, S.Pd.
Guru SDN Slametan, Gunungkidul, DIY.  

MENULIS ARTIKEL DI MAJALAH PGRI (RESUME #13)





Hari, tanggal       : Selasa, 14 April 2020
Narasumber       : Dr. Jejen Musfah

Tema pertemuan WAG kali ini adalah menulis artikel di majalah PGRI dengan narasumber Dr. Jejen Musfah, M.A. pimpinan redaksi majalah suara guru PB PGRI. Majalah suara guru PB PGRI email : majalah.suaraguru@gmail.com. Beliau adalah seorang dosen dan ketua program magister manajemen pendidikan FITK UIN Jakarta, seorang penulis buku, penulis opini pendidikan, pemimpin redaksi majalah suara guru PB PGRI, sekretaris Departemen Pembinaan Mental dan Spiritual pengurus besar PGRI, dan tim ahli perubahan RUU Guru dan Dosen DPD RI 2018.
Beliau menjelaskan tentang muatan-muatan yang ada dalam majalah suara guru PGRI, antara lain: Opini intinya gagasan penulis atas kebijakan atau fakta pendidikan yang terjadi. Artinya opini tidak akan kehilangan topik. Kebijakan dan fakta pendidikan selalu hadir. Tetapi tidak semua berhasil menangkap momentum untuk menanggapi.
Guru adalah praktisi Majalah Suara Guru. Ketua PGRI sendiri sudah puluhan tahun. Tulisan bisa dimuat di online dan offline. Majalah dicetak sebanyak 5000 eksemplar yang dibagikan ke hampir 34 provinsi. Rubriknya beragam:
1.    Opini
2.    Resensi
3.    Sastra
4.    Destinasi, dll.
Syarat mengirimkan artikel ke redaksi majalah guru yaitu menyebutkan status dan foto, serta tulisannya sesuai rubrik di atas. Menulis dan mengirimkan tulisan di majalah suara guru PGRI tidak ada honornya. Jika keuangan memadai, ke depan akan dibayar. Beliau juga menjawab kiat agar mau dan mampu membuat artikel yaitu dengan cara menuliskan saja, jangan takut buruk. Selain itu juga banyak membaca opini di koran nasional atau detik.com. Karena penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Hasil penelitian juga dapat masuk ke jurnal PGRI. Dan masih banyak tanya jawab yang lainnya. Terima kasih Pak Jejen semoga nanti kami bisa berperan mengirimkan artikel ke majalah suara guru PGRI.

Oleh: Riani Astuti, S.Pd.
Guru SDN Slametan, Gunungkidul, DIY.